Banjarbaru Transport

MASIH MENGATRI BBM

 Pemerintah berencana mengurangi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang akan berimbas pada naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Kenaikan harga BBM bersubsidi diproyeksi berada di kisaran Rp 2.000 hingga Rp 3.000 per liter.

Langkah pengurangan subsidi BBM ini adalah upaya pemerintah menyiasati sempitnya ruang fiskal dalam postur anggaran dalam APBN 2015 bagi pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Kebijakan tidak populer ini sudah berkali-kali dilakukan pemerintahan sebelum Jokowi-JK. Meski demikian, aksi penolakan masih terus terjadi, termasuk kali ini.

Aksi penolakan dari berbagai kalangan masyarakat dilandasi oleh pengalaman naiknya harga-harga kebutuhan pokok, bahkan sebelum pemerintah secara resmi menaikkan harga BBM bersubsidi. Tak jarang kenaikan harga diikuti dengan kelangkaan bahan pokok.

Meski kenaikan harga BBM bersubsidi mendapat protes dari banyak pihak, namun tak sedikit masyarakat yang memahami kebijakan pemerintah tersebut. Seorang pedagang keliling, Arya, mengaku dirinya tidak keberatan pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi.

Arya mengaku memiliki sebuah sepeda motor yang kerap digunakan untuk aktifitasnya bersama istri dan seorang putri kecilnya. Saat hendak mengisi bahan bakar, Arya mengaku sering melihat pengendara mobil mewah mengisi mobilnya dengan bahan bakar berjenis Premiun yang disubsidi oleh pemerintah. Bahkan, Arya berkali-kali melihat pengguna mobil pelat merah mengisi Premiun di SPBU.

"Kadang saya suka sengajain isi Pertamax (BBM non subsidi) di depan dia (pengendara mobil) biar dia liat saya aja yang pake motor ngisinya Pertamax,, Senin (10/11).sumber merdeka.com

Leave a Response